Senin, 07 Maret 2011

Resensi Percy Jackson The Last Olympian


Hubungan Baik, Dimanapun (Bahkan di dunia para Dewa sekalipun) itu sangat dibutuhkan

Judul Buku       : Percy Jackson and The Olympians- The Last Olympian
Pengarang       : Rick Riordan
Penerbit          : Hikmah
Tahun Terbit   : 2010
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal               : 454 halaman
           
            Rick Russel ‘Rick’ Riordan, Jr., pengarang yang dilahirkan di San Antonio, Texas, pada 5 Juni 1964 ini membawa banyak pengaruh masa lalunya dalam novel ini. Pasalnya nih, pekerjaannya sebelum menekuni dunia tulis menulis adalah seorang guru sejarah di sekolah menengah negeri dan swasta di San Fransisco dan Texas, selama 15 tahun. So, pengetahuan sejarahnya ini dituangkannya ke dalam buku-buku yang ditulisnya, termasuk di Novel Percy Jackson and The Olympians series. Riordan juga membawa daerah-daerah asalnya di wilayah United States sebagai latar dalam novelnya. Sebut saja, Manhattan sebuah kota  real estate di New York, sungai Hudson, Gedung Empire State New York, dan masih banyak lagi tempat yang digambarkan sangat asli oleh Riordan.
            Di balik munculnya Novel Percy Jackson and The Olympians series ini, anak pertama Riordan, Haley, memegang peranan penting. Setiap malam sebelum tidur, ia meminta ayahnya menceritakan kisah sebelum tidur. Riordan pun dengan memanfaatkan pengetahuan plus imajinasinya, mengarang kisah berdasarkan mitologi Yunani  tentang seorang anak Dewa dan manusia bernama Percy Jackson yang menderita disleksia dan ADHD (Antention Deficit Hiperactivity Disorder), penyakit sama yang juga diderita Haley.
            Novel Percy Jackson and The Olympians series ini telah mendapat banyak penghargaan bergengsi, antara lain Mark Twain Award tahun 2008, USA Today Best Seller, Wallstreet Journal Best Seller, dan masih banyak lagi. Sedikit banyak itu membuktikan novel ini disukai oleh pembaca, dan itulah hal yang memberi semangat pada diri Riordan. Seri kelima dari lima seri Percy Jackson and The Olympians ini mengisahkan tentang perjuangan Percy Jackson dan seluruh blasteran (sebutan untuk anak keturunan Dewa dan manusia), serta Dewa-Dewi Olympia untuk mempertahankan Olympus, isatana para Dewa, dari invasi habis-habisan yang dimotori oleh sang Penguasa Titan dan sekutunya.
            Novel ini diawali dengan aksi meledakkan kapal Putri Andromeda, markas besar Kronos, sang Penguasa Titan, oleh Percy Jackson dibantu konselor senior untuk pondok Hephaestus, Charles Beckendorf. Putri Andromeda  berisi berbagai makhluk aneh mitologi Yunani, seperti para wanita ular Dracaena, anjing neraka, raksasa, telekhine sejenis monster anjing laut humanoid, dan lain-lain. Dengan Riptide, perunggu langit mematikan sepanjang 90 sentimeter, bersusah payah Percy Jackson menghancurkan musuh-musuhnya. Maka ketika Beckendorf mengaktifkan detonator peledak api Yunani, meledaklah putri Andromeda, namun hal itu terpaksa merenggut nyawa Beckendorf. Peledakan Putri Andromeda, walaupun tentunya tidak benar-benar melumpuhkan kekuatan para Titan, setidaknya dapat memperlambat gerakan musuh menuju Manhattan, tempat gunung Olympus berada di lantai 600 gedung Empire State, dan sekaligus memberi Percy Jackson dan kawan-kawan tambahan waktu.
            Berawal dari hal tersebut, dimulailah konflik dalam novel ini. Di satu sisi, Kronos dan para Titan sekutu telah memulai aksinya menyerang Olympus dengan  kekuatan penuh. Namun, di sisi lain, kekuatan Dewa-Dewi Olympia tak mampu membendung serangan musuh alih-alih membuat pertempuran seimbang. Kerajaan Poseidon, Dewa Penguasa Laut yang  juga ayah Percy Jackson , mendapat  serangan membabi buta. Poseidon pun terus berada di lautan berusaha melawan para monster laut dan yang terkuat adalah Titan laut, Oceanus, untuk mempertahankan wilayahnya. Tanpa disadarinya, bahwa serangan ke kerajaannya itu hanyalah strategi licik Kronos.
            Sementara itu, Olympus target utama invasi, berada dalam keadaan yang buruk. Para Titan sekutu Kronos menyerang melalui udara. Namun, hal itu dapat diatasi setidaknya untuk sementara, oleh Dewa Angin, Aleolus, yang mengerahkan seluruh pasukan terhebatnya untuk meredam serangan udara. Sehingga tak satupun, kecuali para Dewa, bisa mendekati Olympus dari udara. Jadi, Kronos dan pasukannya harus melewati kota Manhattan dan naik lift ke lantai 600 di Gedung Empire State untuk sampai ke Olympus.
            Percy Jackson memimpin para blasteran lainnya mempertahankan Manhattan dari serbuan pasukan Kronos tanpa pertolongan para Dewa, sebab para Dewa toh sudah dibuat sangat sibuk oleh serangan udara musuh. Mereka berjuang mati-matian.  Kronos pun tak ingin membuang-buang waktu mengharapkan serangan udaranya berhasil, maka invasi ke kota pun dimulai. Sebelumnya, Titan mimpi, Morpheus, telah menidurkan seluruh isi Manhattan, sementara  Kronos memelankan waktu dan memutar arah sehingga tak satupun manusia fana yang dapat masuk ke Manhattan. Hal ini untuk mencegah korban dari manusia fana (hmmm, bukankah ini salah satu sisi baik Kronos?).
            Seluruh Dewa-Dewi Olympia berada di garis depan kerajaan Olympus, kecuali  Poseidon yang tengah bertempur di lautan, dan Hades, Dewa Kematian, yang tak mau menyibukkan diri dalam pertempuran melindungi Olympus , karena rasa sakit hatinya kepada Zeus. Jadi, bayangkan, saat Dewa-Dewi lain setengah mati bertempur, Hades tetap bergeming di wilayahnya di bawah tanah dalam perut Bumi. Inilah penyebabnya, mengapa kekuatan para Dewa mampu dikalahkan oleh para Titan? Betapa tidak, berkat strategi Kronos untuk menghindari perimbangan kekuatan, dua Dewa Olympia terhebat tidak berada di garis depan. Yang satu hanya sibuk mempertahankan wilayahnya sendiri, dan yang satu lagi tidak mau tahu apa yang terjadi di Olympus dan tetap tenang di wilayahnya.
            Manhattan dihancurkan. Manusia fana telah terbangun sepenuhnya, berlarian karena ngeri dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Manusia fana hanya bisa melihat mobil-mobil bertabrakan, angin badai berputar ganas, dan pemandangan mengerikan lainnya,  tanpa melihat para Dewa dan  Titan, tentunya. Anggapan mereka bahwa inilah akhir dunia, kiamat. Para blasteran dengan sisa kekuatan mereka berusaha melawan kekuatan pasukan Titan yang tak ada habisnya. Saat genting seperti  itu, Percy Jackson kembali teringat ramalan tentang kematiannya sebelum menginjak 16 tahun, yang artinya tidak lama lagi. Kekuatannya bertambah dan berpikir pada akhirnya dia akan mati dan akan bagus kalau dia mati sebagai pahlawan. Namun, kekuatan musuh tentu saja tak sebanding dengan mereka. Akhirnya mereka dapat dipukul mundur dan semakin mendekati Gedung Empire State, tempat gunung Olympus berada.
            Lalu, bagaimana dengan nasib Percy Jackson, dkk? Nasib Dewa-Dewi Olympia? Nasib manusia fana? Dan terutama nasib dunia? Apakah ini akhir kekuasaan Dewa-Dewi Olympia?
            Cerita yang sangat mengesankan. Alur cerita yang penuh ketegangan di setiap bagiannya, membuat Anda akan takjub dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi selanjutnya karena kelanjutan cerita yang tak mudah ditebak.
            Kemampuan pengarang memaparkan latar dengan sangat baik merupakan salah satu kekuatan novel ini. Latar yang digambarkan sangatlah deskriptif, membuat Anda ikut terhanyut membayangkan keadaan kota Manhattan yang terasa nyata seolah-olah Anda berada di sana dan menjadi bagian dari pertempuran itu. Dan tentang Gunung Olympus yang berada di lantai 600 Gedung Empire State, hal itu mungkin saja ada, dan memang semua tempat terasa nyata keberadaannya dalam novel ini. Disinilah letak kelihaian Riordan.
            Penokohan antara tokoh protagonis dan antagonis tidak jelas, dimana setiap tokoh digambarkan tidak ada yang benar-benar jahat dan benar-benar baik. Ini salah satu hal yang bagus dalam novel ini, membuat cerita mengalir dengan wajar, tak dibuat-buat. Bahkan Dewa pun digambarkan dengan tak sempurna, mereka pun layaknya manusia yang memiliki keinginan duniawi.
            Sudut pandang orang pertama tunggal yang berada di tokoh Percy Jackson, mampu mendukung keseluruhan cerita. Anda dapat mengetahui jalan pikiran seorang anak laki-laki usia hampir 16 tahun, yang terkadang serius, kadang  pula sesuka hatinya menilai sesuatu, layaknya anak seusianya yang masih labil. Sekali lagi, sangat natural.
            Novel ini sarat dengan amanat. Amanat yang jelas terlihat adalah rasa marah dan penuh kebencian, dapat menghancurkan segalanya, tidak hanya diri sendiri tapi juga orang di sekitar. Oleh karenanya, jangan pernah memberi kesempatan rasa buruk itu bersemayam dalam diri dan berusahalah jangan pernah memberi kesempatan orang lain merasakan rasa buruk itu. Maksudku, jika ada yang menjahatimu, lupakanlah. Berbuat baiklah pada setiap orang bahkan bila orang itu pernah menjahatimu. Masih banyak pesan moral  yang cerdas,  yang bisa dipetik setelah membaca novel ini. Hal itu dapat memberikan tambahan pelajaran hidup yang berharga tentunya.
Bila Anda sudah mulai membaca novel ini, Anda tidak dapat berhenti ditengahnya. Novel ini mampu membuat pembacanya tertarik hingga akhir cerita. Latar yang begitu jelas membuat Anda merasa berada di sana. Konflik yang penuh ketegangan  dan cerita yang sarat amanat, memberi kepuasan setelah membaca novel ini.
Novel ini menggabungkan mitologi Yunani dan cerita fiksi yang dikarang dengan setting waktu saat ini. Nilai plusnya adalah dengan membaca novel ini bisa memperluas wawasan mengenai mitologi Yunani yang bersejarah sekaligus menikmati ceritanya yang OKs banget. Komplit, kan? Dapat asyiknya, dapat ilmunya, dan dapat pesan moralnya. Ckckckck,, tidak perlu berpikir dua kali,, segeralah  membaca novel ini dan bersiaplah memasuki alam mitologi Yunani yang menegangkan.
***
Created by : Evie Noviana


           

Metamorfosis


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Makhluk hidup mulai dari tingkat uniseluler sampai tingkat multiselular memiliki kemampuan untuk mempertahankan jenisnya dengan jalan reproduksi. Hal itu dimaksudkan agar tetap dapat mempertahankan kelangsungan spesiesnya di muka bumi.
         Khusus untuk golongan insecta, mengalami perkembangan pasca lahir, yang dikenal dengan metamorfosis. Praktikum Perkembangan Hewan kali ini ialah metamorphosis khususnya pada ulat. Pada praktikum ini, praktikan akan memeliahara ulat hingga ulat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Praktikan juga dapat mengamati secara langsung dan mengetahui tahap-tahap proses yang mesti dilakukan dari awal sampai akhir hingga terbentuknya bentuk tubuh yang baru dalam proses metamorfosis.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini yaitu  untuk mengamati dan mengetahui tahap-tahap metamorfosis.
C. Manfaat Praktikum
     1. Praktikan dapat memahami tahapan metamorfosis.
     2. Praktikan memiliki keterampilan memelihara ulat hingga mampu bermetamorfosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada makhluk hidup perkembangannya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu perkembangan pra lahir (prenatal) dan perkembangan pasca lahir (post natal). Yang dimaksud dengan perkembangan pra lahir adalah perkembangan organisme yang terjadi sebelum lahir atau penetasan, sedangkan perkembangan pasca lahir adalah perkembangan organisme setelah proses kelahiran atau penetasan. Perkembangan pasca lahir terdiri dari perkembangan langsung dan tidak langsung. Perkembangan pasca lahir langsung apabila keturunan yang dilahirkan sudah memiliki struktur tubuh seperti individu dewasa, sedangkan perkembangan pasca lahir tidak langsung apabila keturunan yang dilahirkan atau ditetaskan mempunyai struktur yang berbeda dengan individu sebelumnya, stadium dewasa dicapai melalui beberapa stadium perantara yang disebut dengan stadium larva. Disini terdapat perbedaan dalam hal morfologi, fisiologi dan ekologi antara larva dengan hewan dewasa. Perubahan dari bentuk larva menuju bentuk dewasa disebut metamorphosis. Pengaturan perubahan tubuh metamorfosis sebagian bersifat progresif dan sebagian bersifat regresif. Sifat progresif terjadi pada organ yang diperlukan pada kehidupan larva dan tidak diperlukan pada saat dewasa, sifat ini akan hilang sama sekali. Sedangkan sifat regresif akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dewasanya (Tim Pengajar, 2010).
            Menurut Campbell (2004), metamorfosis terdiri dari beberapa tahap yaitu:
1.      Larva (ulat), menghabiskan waktunya untuk makan dan tumbuh, melakukan molting/pergantian kulit.
2.      Setelah beberapa kali berganti kulit, larva membungkus dirinya sendiri dalam kepompong dan menjadi pupa.
3.      Di dalam pupa, jaringan larva diurai, dan hewan dewasa tumbuh melalui pembelahan dan diferensiasi sel-sel yang sebelumnya tidak aktif pada tahap larva.
4.      Akhirnya, hewan dewasa keluar dari kepompong.
5.      Cairan dipompakan ke dalam vena sayap dan kemudian ditarik kembali, sehingga meninggalkan vena yang mengeras sebagai topangan yang menyangga sayap. Sehingga serangga ini dapat terbang dan bereproduksi, dan mendapatkan banyak kebutuhan nutrisinya dari kalori yang disimpan oleh larva yang selalu makan.
                Sementara kupu-kupu mengalami tahapan yang lebih panjang lagi sebelum menjadi kupu-kupu dewasa. Pertama kali, kupu-kupu akan bertelur. Telur kupu-kupu bisanya akan menempel di dedaunan. Telur kemudian menjadi ulat. Makanya, ulat paling sering berada di daun, karena sebelumnya telur kupu-kupu yang menjadi cikal bakal ulat ini terdapat di daun. Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong. Dalam bahasa ilmiah, kita menyebutnya pupa atau chrysalis. Di dalam pupa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Tidak berapa lama kemudian menjadi kupu-kupu dewasa (Anonim, 2011).
Sejumlah organisme pada saat ditetaskayan memiliki bentuk dan fungsi yang  masih berbeda dengan individu dewasanya. Organisme-organisme yang demikian masih memerlukan suatu proses perkembangan yang spesifik agar bentuk dan fungsi individu yang baru tersebut menyerupai individu dewasanya. Proses tersebut dinamakan metamorfosis. Fenomena seperti ini dapat dijumpai pada katak atau berbagai jenis serangga (Adnan, 2010).
            Menurut Suroso (2003), jenis metamorphosis dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1.      Metamorfosis sempurna
Misalnya pada kupu-kupu dimana masa kecil berupa ulat yang memiliki tipe mulut menggigit, makanannnya dauna-danuan, tubuh tidak bersayap, jumlah kaki banyak, yang disebut larva karena berbeda dengan dewasanya. Lalu menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupu dewasa yang memiliki cirri tipe mulut penghisap, makannnya sari madu, tubuh bersayap, dan jumlah kaki ada tiga.
2.      Metamorfosis tidak smpurna
Misalnya pada katak dan belalang. Pada katak, masa kecil kecebong bergerak dengan ekor, bernapas dengan insang. Berbeda sifat dengan bentuk dewasanyat tidak mengalami masa kepompong. Masa dewasa katak bergerak dnegan kaki dan bernafas dengan paru-paru dan kulit. Pada belalang, masa kecil memiliki tipe mulut menggigit, makanannnya dauna-danuan, tubuh tidak bersayap, jumlah kaki tiga pasang, yang disebut nimpa karena memiliki banyak kesaman dengan dewasanya. Tidak mengalami masa kepompong.

BAB III
METODE PRATIKUM

A. Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal                    : Selasa,   Desember  2010
Waktu                              : Pukul 09.10 s.d 10.50 WITA
Tempat                             : Green House Biologi Jurusan Biologi FMIPA UNM.
B. Alat dan bahan
  1. Alat
a.       Kandang yang terbuat dari rang kawat
b.      Gelas aqua
  1. Bahan
a.       Ulat
b.      Daun segar
c.       Air
C.    Prosedur Kerja
  1. Membuat kandang dari rang yang dilengkapi dengan pintu.
  2. Mengambil ulat dari pohon yang disertai dengan setangkai daun dan menyimpannya dalam gelas aqua yang berisi air agar daun tetap segar.
  3. Mengamati keadaan metamorfosis dari ulat tersebut setiap hari
  4. mencatat hasil pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.      Fase larva/ulat




2.      Fase pupa/ kepompong
                        



3.      Fase imago/ kupu-kupu dewasa



B.       Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan kami dalam praktikum metamorfosis ini, dapat dibuktikan bahwa kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna atau holometabola yang melalui tahapan-tahapan atau stadium: telur – larva – pupa – dewasa (kupu-kupu dewasa).
1.      Fase Ulat / larva
Fase ulat ini berlangsung selama enam hari, tubuhnya berwarna hijau dengan bagian kepala berwarna hitam. Terdiri dari caput, thorax, dan abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena, sedangkan abdomen merupakan bagian yang bersegmen. Pada bagian pertemuan dengan thorax segmennya lebih besar sampai 4 segmen, sedangkan segmen selanjutnya kecil sampai ujung dorsal. Pada setiap segmen ini terdapat sepasang kaki. Larva/ ulat ini sangat aktif bergerak dan membuat sarang baru yaitu pada daun Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu), sampai pada hari ke enam larva tersebut sudah tidak aktif bergerak dan diam dalam gulungan daun Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu).
2.         Pupa /  kepompong
Fase ini berlangsung selama tujuh hari. Pada fese ini, larva yang tadinya berwarna hijau menjadi berwarna coklat kemerah-merahan, dan kita tidak bisa membedakan bagian-bagiannya seperti caput, thorax dan juga abdomennya. Dalam fase ini, pupa/ kepompong tidak aktif bergerak seperti halnya pada fase larva dan diam dalam gulungan daun Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu).
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Radiopoetro (1991) yang menyatakan bahwa ulat kadang-kadang memintal suatu sayatan coccon dan didalamnya mereka membentuk pupa. Meskipun pada fase ini tidak ada pergerakan atau aktivitas kehidupan namun sebenarnya pupa mempersiapkan diri membentuk kupu-kupu muda. Pupa mengalami reorganisasi struktur yang sempurna sehingga dekat pada bentuk hewan dewasa.
3.         Imago / kupu-kupu dewasa
Pada hari ke-XII, terjadi pemecahan selongsong yaitu kulit yang membungkus pupa pada saat fase pupa, lalu muncullah imago. Sesaat setelah keluar dari pembungkusnya, sayap kupu-kupu masih terlipat. Untuk mengembangkan sayap, kupu-kupu memompakan darah secara penuh ke sayapnya. Setelah satu sampai dua jam sayap akan mengembang untuk dapat terbang. Kupu-kupu ini berukuran kecil dengan warna coklat muda dengan bintik-bintik coklat tua. Tubuhnya sudah dapat dibedakan atas beberapa bagian yaitu; caput, thorax, dan abdomen. Alat mulutnya termasuk tipe penghisap. Biasanya tidak mempunyai mandibula, maksila bersatu membentuk  proboscis (pipa) yang berguna untuk menghisap cairan.  Antena panjang, dan memiliki tubuh yang bersisik dan berbulu. Kupu-kupu ini memiliki aktivitas terbang dan makan dengan jalan menghisap madu dari bunga.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Metamorphosis pada kupu-kupu adalah metamorfosis sempurna, yang terdiri dari tahap :
a. Fase larva, berupa ulat yang bersifat aktif dan hidup di dedaunan hijau.
b. Fase pupa, berwarna coklat kemerahan, bersifat diam.
c. Fase kupu-kupu, merupakan fase akhir dimana ulat telah berubah menjadi kupu-kupu  yang selanjutnya akan melakukan peneybaran dan reproduksi.
B. Saran
1. Diharapkan kepada praktikan agar menjalin kerjasama antar kelompok.
2. Diharapkan Asisten mendampingi praktikan dan memberi pemahamn tentang materi yang bersangkutan.
3. Diharapkan alat dan bahan yang digunakan dalam laboratorium dalam keadaan  yang baik agar pengamatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Metamorfosis Kupu-Kupu. http://myscienceblogs.com. Diakses tanggal7 Januari  2011.
Adnan. 2010. Perkembangan Hewan. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Campbell, N. A,  J. B. Reece dan L. G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Suroso, AY. 2003. Ensiklopedi dan Sains Kehidupan. Jakarta: Tarity Samudra Berlian.
Tim Pengajar. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan  Hewan. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar.



Regenerasi


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Makhluk hidup mulai dari tingkat uniseluler sampai tingkat multiselular memiliki kemampuan untuk mempertahankan jenisnya. Hal itu dimaksudkan agar tetap dapat mempertahankan kelangsungan spesiesnya di muka bumi. Proses mempertahankan jenis itu dapat dikategorikan ke dalam proses reproduksi atau perkembangbiakan. Tiap jenis hewan memiliki cara reproduksi yang berbeda satu sama lain. Pada hewan avertebrata proses reproduksi masih sederhana, sedangkan pada hewan vertebrata prosesnya kompleks dan melibatkan banyak organ reproduksi. Proses reproduksi didukung oleh sejumlah hormon reproduksi, sel kelamin, saluran reproduksi, dan sejumlah hormon reproduksi.         
         Golongan invertebrata, mengalami perkembangan pasca lahir, yang dikenal dengan regenerasi. Kemampuan untuk meregenerasi struktur tubuh yang hiang dijumpai pada spons, coelenterate, cacing, bahkan banyak diantaranya mampu membentuk organism baru. Sedangkan, golongan vertebrata regenerasi hanya berlangsung secara fisiologi seperti kulit dan derivatnya.
        Praktikum Perkembangan Hewan kali ini ialah regenerasi khususnya pada ikan. Pada praktikum ini, praktikan akan memeliahara ikan yang ekornya telah dipotong. Praktikan juga dapat mengamati secara langsung dan mengetahui tahap-tahap proses regenerasi pada ikan.

B. Tujuan Praktikum
                      Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa memiliki pemahamn yang lebih baik mengenai konsep-konsep perkembangan hewan dewasa dan proses regenerasi.
C. Manfaat Praktikum
     1. Praktikan dapat memahami tahapan dalam proses regenerasi.
     2.  Praktikan dapat memahami tentang regenerasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Setiap larva dan hewan dewasa mempunyai kemampuan untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh mereka yang secara kebetulan hilang atau rusak terpisah. Kemampuan menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang ini disebut regenerasi. Kemampuan setiap hewan dalam melakukan regenerasi berbeda-beda. Hewan avertebrata mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih tinggi daripada hewan vertebrata (Anonim, 2011).
            Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut, ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya anggota bagian bdan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, misalnya rontok rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai proliferasi dan diferensiasi lebih sel-sel lapisan marginal. Dapat pula berbentuk sebagai penimbunan sel-sel yang Nampak belum berdiferensiasi pada luka yang disebut blastama, yang akan berproliferasi dan secara progresif membentuk bagian tubuh yang hilang. Blsatama berasal dari sel cadang khusus atau neoblast sel-sel interstitial yang bermigrasi ke tempat asal luka (Sugiyanto, 1996).
           


            Menurut Yatim (1993), bahwa proses regenerasi terdiri dari :
1.      Darah mengalir menutupi permukaan luka lalu membentuk scap yang sifatnya melindungi.
2.      Epitel kulit menyebar di permukaan luka di bawah scap epitel yang bergerak secara nuboid. Butuh waktu dua hari agar kulit lengkap menutupi luka.
3.      Redifferensiasi sel-sel jaringan di sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent, untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.
4.      Pembentukan blastoma, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas luka, scap yang ada mungkin sudah lepas.
5.      Redifferensiasi sel-sel serentak dengan proliferasi sel-sel blastoma itu.
            Dalam membandingkan kemampuan regenerasi dari hewan-hewan yang berbeda, tampak ada hubungan antara kompleksitas dan kemampuannya untuk regenerasi. Daya regenerasi spons hamper sempurna. Pada manusia, regenerasi terbatas pada perbaikan organ dan jaringan tertentu. Dalam satu oragnisme, setidaknya di antara vertebrata, dengan meningkantnya umur juga tampak kemampuan regenerasi llenyap secara progresif. Ketika tungkai pertama terlihat pada kecebong katak, bila lenyap bagian itu akan dapat diregenerasi dengan mudah, akan tetapi setelah metamorphosis, katak secara normal tidak mampu meregenrasi tungkai yang lenyap. Persamaan antara regenerasi dan perkembangan embrio telah menyebabkan beberapa ahli embriologi mempelajari regenerasi dengan harapan mendapatkan suatu pengertian bagaimana perkemabngan embrio terjadi. Penemuan polaritas telah memperlihatkan bahwa kekuatan organisasi tertentu, mungkin kimiawi bekerja pada regenerasi (Kimball, 1983).
            Menurut Tim Pengajar (2010), regenerasi merupakan suatu proses yang terjadi terdiri atas beberapa tahap, yaitu :
1.      Penyembuhan luka
2.      Perombakan jaringan
3.      Pembentukan blastema
4.      Morfologi dan rediferensiasi
dan ada beberapa faktor yang mempengaruhi regenerasi antara lain :
1.      Temperatur
2.      Makanan
3.      System saraf
BAB III
METODE PRATIKUM

A. Waktu dan Tempat
     Hari/Tanggal                      : Selasa / 14 Januari 2011
     Waktu                                : Pukul 10.30 s.d. 12.00 WITA
  Tempat                               : Green House Jurusan Biologi FMIPA UNM
B.     Alat dan bahan
  1. Alat
a.       Mistar
b.      Gunting
c.       Toples 3 buah
  1. Bahan
a.       Ikan cuppang (Betta splendens) 3 ekor
b.      Hydrilla
c.       Air
d.      Pakan ikan
C.    Prosedur Kerja
a.          Mengisi toples dengan air kira-kira sepertiga bagian dan sedikit tumbuhan hydrilla.
b.         Melakukan pemotongan ekor ikan dengan empat cara yaitu dipotong secara lurus, dipotong segitiga, di potong miring, dan ikan control tidak diberi perlakuan. Masing-masing memotong sepanjang 0,5 cm.
c.          Memasukkan ikan yang telah dipotong ekornya ke dalam toples yang telah diberi label.
d.         Mengamati setiap empat hari sekali selama 1 bulan terhadap proses regenerasi dan mengukur pertamabhan panjang ekor ikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
     Panjang ekor ikan setelah pemotongan
Jenis perlakuan
Panjang awal
Panjang pemotongan
Panjang akhir
Control
1,00 cm
- cm
1,30 cm
Lurus
1,30 cm
0,50 cm
1,20 cm
Segitiga
1,30 cm
0,50 cm
1,90 cm
Miring
0,80 cm
0,50 cm
1,20 cm
Pertambahan panjang ekor ikan selama 28 hari
Hari/ Tanggal 
Jenis Perlakuan
Panjang awal (cm)
Panjang Akhir (cm)
Sabtu/ 18-12-2010
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,30
1,30
0,80
1,00
0,80
0,80
0,30
Rabu/ 22-12-2010
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
0,80
0,80
0,30
1,00
1,10
1,10
0,40
Minggu/ 26-12-2010
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,10
1,10
0,40
1,00
1,10
1,20
0,60
Kamis/ 30-12-2010
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,10
1,20
0,60
1,00
1,20
1,30
0,70
Senin/ 3-1-2011
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,20
1,30
0,70
1,00
1,20
1,40
0,80
Jumat/ 7-1-2011
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,20
1,40
0,80
1,00
1,20
1,60
0,90
Selasa/11-1-2011
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,00
1,20
1,60
0,90
1,20
1,20
1,70
1,10
Sabtu/ 15-1-2011
Kontrol
Lurus
Segitiga
Miring
1,20
1,20
1,70
1,10
1,30
1,20
1,90
1,20
Rabu/ 19-1-2011
HILANG
HILANG
HILANG
B.     Grafik
C.    Analisis Data
1.      Jenis ikan I (Kontrol)
V1 = 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V2= 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V3= 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V4= 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V5= 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V6= 1,00 cm - 1,00 cm = 0 cm
V7= 1,20 cm- 1,00 cm = 0,20 cm
V8 = 1,30 cm – 1,20 cm = 0,10 cm

Jadi V= V1 + V2+ V3 + V4 + V5 + V6 + V7 +V8
                                           8
           = 0 +0+0+0+0+0+0,2+0,1
                             8
           = 0,0375 cm

2.      Jenis Ikan II (Lurus)
                V1 = 1,10 cm – 0,80 cm = 0,30 cm
                 V2= 1,10 cm - 1,10 cm = 0 cm
    V3= 1,20 cm - 1,10 cm = 0,10 cm
                 V4= 1,20 cm - 1,20 cm = 0 cm
          V5= 1,20 cm - 1,20 cm = 0 cm
           V6= 1,20 cm - 1,20 cm = 0 cm
               V7= 1,20 cm- 1,20 cm = 0 cm
           V8 = 1,20 cm – 1,20 cm = 0 cm
             Jadi V= V1 + V2+ V3 + V4 + V5 + V6 + V7 +V8
                                           8
                       = 0 ,3+0+0,1+0+0+0+0+0
                                   8
                 = 0,05 cm
3.      Jenis Ikan III (Segitiga)
      V1 = 1,10 cm – 0,80 cm = 0,30 cm
      V2= 1,20 cm - 1,10 cm = 0,10 cm
      V3= 1,30 cm - 1,20 cm = 0,10 cm
      V4= 1,40 cm - 1,30 cm = 0,10 cm
      V5= 1,60 cm - 1,40 cm = 0,20 cm
     V6= 1,70 cm - 1,60 cm = 0,10 cm
     V7= 1,70 cm- 1,60 cm = 0,10 cm
     V8 = 1,90 cm – 1,70 cm = 0,20 cm
            Jadi V= V1 + V2+ V3 + V4 + V5 + V6 + V7 +V8
                                               8
                    = 0 ,3+0,1+0,1+0,1+0,2+0,1+0,1+0,2
                                                   8
                    = 0,15 cm
4.      Jenis Ikan IV (Miring)
   V1 = 0,40 cm – 0,30 cm = 0,30 cm
   V2=  0,60 cm – 0,40 cm = 0,20 cm
   V3= 0,70 cm – 0,60 cm = 0,10 cm
   V4= 0,80 cm – 0,70 cm = 0,10 cm
   V5= 0,90 cm – 0,80 cm = 0,10 cm
   V6= 1,10 cm – 0,90 cm = 0,20 cm
   V7= 1,10 cm- 0,90 cm = 0,20 cm
   V8 = 1,20 cm – 1,10 cm = 0,10 cm
            Jadi V= V1 + V2+ V3 + V4 + V5 + V6 + V7 +V8
                                               8
                    = 0 ,3+0,2+0,1+0,1+0,1+0,2+0,2+0,1
                                                   8
                    = 0,1625 cm
D. Pembahasan
Ekor ikan Cupang memiliki bentuk yang panjang dan berumbai. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator. Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi. Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan melepaskan diri dari serangan musuh. Jadi, autotomi merupakan perwujudan dari mutilasi diri (Strorer, 1981).
Pada praktikum ini menggunakan 3 ekor ikan cuppang (Betta splendens) dengan perlaukan yang berbeda-beda. Ikan I sebagai control, ikan II ekornya dipotong lurus, ikan III ekornya dipotong segitiga, dan ikan IV ekornya dipotong miring. Masing-masing ikan akan diamati selama 4 minggu untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada ekor ikan. Pada ikan yang ekornya dipotong segitiga menglamai pertamabahan panjang.
Adapun laju pertumbuhan ekor ikan adalah :
1.               Control : 0,0375 cm
2.               Lurus : 0,05 cm
3.               Segitiga : 0,15 cm
4.               Miring : 0,1625 cm
            Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan dari tempetatur, pada hal-hal tertentu dapat mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi cepat pada suhu 29,7 derajat Celcius. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi proses regenerasi (Morgan, 1989).
Menurut  Kimbal (1993), regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung.
2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit.
3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi. Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit.
4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel-sel pengembara akan berproliferasi membentuk blastema.
5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi.
6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya.
BAB V
PENUTUP

A.          Kesimpulan
               Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa regenerasi adalah proses kembalinya organ dalam waktu yang singkat.  Proses regenerasi terjadi beberapa tahap yaitu terjadinya pembekuan darah disekitar luka yang nantinya akan terbentuk scab, Jaringan epitel kulit yang berada dibawah scab menyebar menutupi seluruh permukaan luka, Sel-sel disekitar luka bersifat pluripotent, dimana menjadi muda sehingga aktif membelah kembali, Terbentuknya blastema atau kuncup regenerasi yang akan menggantikan scab, Regenerasi akan berhenti apabila proliferasi sel-sel balastema terhenti juga.
B.           Saran
1. Diharapkan kepada praktikan agar lebih tertib dalam menjalankan praktikum dan saat membedah dilakukan dengan teliti.
2. Diharapkan Asisten mendampingi praktikan dan memberi pemahamn tentang materi yang bersangkutan.
3. Diharapkan alat dan bahan yang digunakan dalam laboratorium dalam keadaan  yang baik agar pengamatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Regenerasi Ekor Ikan. syl4r.blogspot.com/2009/02/regenerasi.html. Diakses tanggal 7 Januari 2011.
Kimball, John W. 1993. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Sugianto. 1996. Perkembangan Hewan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Tim Pengajar. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan  Hewan. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar.
Yatim, W. 1993. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.