Senin, 21 Maret 2011

Perkembangan Gizi di Indonesia

1. Perkembangan Ilmu Gizi Di Indonesia
a. Belanda mendirikan “Laboratorium Kesehatan “ pada tanggal 15 Januari 1888 di Jakarta , tujuannya menanggulangi penyakit beri-beri di Indonesia dan Asia
b. Tahun 1938, nama “Laboratorium Kesehatan” diganti dengan “Lembaga Eijkman”
c. Tahun 1934, IVV (Het Institud dan Voor Volk Suceding) atau Lembaga Makanan Rakyat dan setelah merdeka ( kira-kira tahun 1964) mulai melakukan penelitian.
d. Tahun 1937 – 1942, diadakan survei gizi yaitu 7 tempat di Jawa , 1 tempat di Lampung, dan 1 tempat di Seram..
e. Scooltema, Ochese, Terra, Jansen, Donath, Postmus, Van Veen mengamati pola makanan, keadaan gizi, pertanian, dan perekonomian.
f. Tahun 1919, Jansen, Donanth (dari Lembaga Eijkman) meneliti masalah Gondok di Wonosobo
g. Tahun 1930, Vanveen Postmus, De Hass menemukan defisiensi Vitamin A di Indonesia.
h. Tahun 1935, De Haas meneliti tentang KEP di Indonesia
i. Sejak Tahun 1919, Panne Kock, Van Veen, Koe Ford, Postmus menganalisis nilai gizi berbagai makanan di Indonesia yang dikenal dengan DKBM
j. Tahun 1950, IVV diganti namanya menjadi Kementerian Kesehatan RI atau LMR (Lembaga Makanan Rakyat) diketuai oleh Prof dr. Poerwo Soedarmo (sebagai Direktur I) à Bapak Persagi dan Bapak Gizi Indonesia. Kemudian LMR membentuk kader / tenaga gizi dan pengalaman ilmu gizi kepada masyarakat.
k. Tahun 1960, Prof. Poerwo Soedarmo mencetak tenaga ahli gizi (AKZI dan FKUI) antara lain :
1. Poerwo Soedarmo, Drajat Prawira Negara
2. Djaeni S. Sedia Utama, Soemila Sastromijoyo, Ied Goan Gong, Oei Kam Nio
3. Soekartijah Martaatmaja, Darwin Kariyadi
4. Ig. Tarwotjo, Djoemadias Abu Naim
5. Sunita Almatsir à Perintis terapi diet dan institusi gizi.
Penelitian terus dikembangkan di Indonesia terutama oleh konsultan asing (WHO, FAO) yaitu :
1. Damen (1952-1955) : Kwashiorkor dan Xerophtalmia
2. Klerk (1956) : Tinggi badan dan berat badan anak sekolah
3. Bailey (1957 – 1958) : Kelaparan di gunung Kidul
Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/atuks/2011/01/07/sejarah-perkembangan-ilmu-gizi/
2. Permasalahan Gizi di Indonesia
2. 1 Ironi Gizi Buruk di Indonesia
Kongres IUNS (International Union of Nutrition Science) ke-33, Vienna 2001, menyatakan bahwa abad ke-20 adalah the golden age (era keemasan) untuk perkembangan ilmu gizi, karena sebagian besar penemuan di bidang gizi terjadi pada abad ini. Ironisnya masalah kekurangan gizi di negara berkembang, memasuki milenium baru ini, justru menembus level di atas ambang normal.
Fenomena ini jika diaplikasikan di Indonesia, bisa menjadi semacam sindiran atau skeptisme terhadap
perkembangan ilmu dan program gizi di Indonesia. Mengapa? Meskipun ilmu dan program gizi sudah lebih dari setengah abad dikembangkan di Indonesia (sejak Lembaga Makanan Rakyat tahun 1950-an), tetapi masalah gizi salah, khususnya gizi kurang, masih tidak juga teratasi dengan tuntas. Yang menja- di pertanyaan, lalu di mana peran ilmu gizi dan para pakarnya?
Kemajuan ilmu gizi memunculkan perubahan paradigma dalam konsep dan strategi penanggulangan masalah gizi salah (baik gizi kurang maupun gizi lebih). Perubahan
paradigma ini mengikuti perkembangan ilmu gizi yang menurut Martorell (2000), pendulumnya bergeser dari aspek kualitas pangan (protein) tahun 1950-an ke aspek
kuantitas (energi) tahun 1970-an, kemudian bergeser lagi ke arah kualitas di tahun 1990-an. Kali ini tekanannya tidak lagi pada protein, tetapi pada vitamin dan mineral (zat gizi mikro).
Pergeseran pendulum Martorell ini didasarkan atas perubahan kebijakan dan program gizi yang sering terjadi sejak tahun 1950-an. Pergeseran ini diakibatkan perkembangan teori-teori kebutuhan zat protein yang berbeda-beda.
Mula-mula kebutuhan protein anak usia satu tahun ditetapkan 3,3 gram per kilogram berat badan. Tahun 1970-an diturunkan menjadi 2,0 sampai akhirnya (sampai sekarang) 1,2 gram per kilogram berat badan per hari.
Banyak Protein
Perkembangan ilmu gizi yang dapat dikatakan sangat sederhana tahun 1930-an menumbuhkan adanya mitos di kalangan ahli gizi sampai tahun 1970-an (bahkan di Indonesia sampai sekarang) bahwa untuk hidup sehat dengan optimal, badan memerlukan banyak protein. Kelebihan protein dibakar menjadi energi.
Dalam praktiknya anjuran itu diterjemahkan dengan menganjurkan masyarakat makan daging, telur, dan susu. Tahun 1950-an sampai sekarang, persepsi yang terbangun di kalangan awam adalah bahwa makanan sehat itu lebih diartikan pada cukupnya daging, telur, dan minum susu.
Program gizi yang dikenal dengan ANP (Applied Nutrition Program) yang disponsori FAO, di Indonesia diadopsi menjadi UPGK (Usaha Peningkatan Gizi Keluarga) pada tahun 1950-an yang menekankan pentingnya mengkonsumsi daging ternak unggas, minum semua susu binatang berkaki empat dan sebagainya. Bahkan di kalangan ahli teknologi pangan diciptakan adanya daging buatan dengan protein concentrate di tahun 1960-an. Arah UPGK berubah penekanannya pada energi setelah Prof Sayogyo di awal tahun 1973 di dalam studi evaluasi ANP menemukan bahwa rumah tangga yang kekurangan energi lebih banyak daripada yang kekurangan protein.
Hasil analisa Prof Sayogyo sejalan dengan data dari negara lain, khususnya India oleh Sukhatme. Perdebatan tentang protein ini memuncak setelah McLaren menulis artikel tentang "Protein Fiasco" di jurnal medik Lancet tahun 1974.
Sejak itu di kalangan pakar gizi mulai diketahui bahwa protein bukan segala-galanya. Dan pendapat ini mendorong bergesernya pendulum ke keseimbangan protein dan kalori, bahkan kemudian juga dengan vitamin dan mineral.
Tahun 1990-an pendulum bergerak lagi ke kiri dengan perhatian pada masalah gizi mikro (vitamin dan mineral) dengan sayuran dan buah-buahan menjadi bintang.
Tidak saja kaya akan vitamin dan mineral, tetapi sayur dan buah-buahan juga kaya akan zat anti oksidan, yang baru ditemukan pada tahun-tahun itu. Sejak saat itu para pakar gizi mulai sadar akan pentingnya, keseimbangan semua zat gizi dan non-gizi dalam suatu pola makan dengan gizi seimbang (balance diet).
Suatu hal yang banyak tidak disadari bahwa sampai saat ini di Indonesia dalam membuat kebijakan dan program gizi masih terpaku pada pendulum tahun 1950-an yang berpusat pada protein. Segala sesuatu yang berlabel gizi dikaitkan dengan protein.
Akibatnya sampai sekarang Indonesia tidak memiliki daftar komposisi makanan untuk vitamin dan mineral yang lengkap. Demikian pula kita masih miskin data masalah gizi mikro seperti defisiensi seng, asam folat, selenium dan lain sebagainya.
Pranata Sosial Perkembangan sosial ekonomi dan politik, turut mewarnai berbagai kebijakan gizi. Terlebih pascakrisis, kondisi tersebut telah merubah bahkan meniadakan keberadaan pranata sosial di pedesaan seperti PKK, posyandu, dasawisma beserta perangkat desa yang mendukung pranata sosial tersebut seperti bidan di desa, PLKB, PPL, kader gizi, dan lain sebagainya.
Padahal selama dasawarsa 1980-an mereka pegang peranan dalam menopang fungsi posyandu dalam melindungi anak miskin dari risiko gizi buruk. Maraknya gizi buruk anak balita di beberapa daerah sejak tahun 1998 tak bisa dilepaskan dari faktor hilangnya pranata sosial dengan tenaga pendukungnya tersebut.
Kebutuhan Dasar
Dampaknya antara lain posyandu tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya. Perkembangan demokrasi dan otonomi daerah kian mempersempit akses rakyat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, pelayanan kesehatan dasar juga pendidikan. Karena itu tidak mengherankan apabila masalah gizi kurang dan gizi buruk masih terus menghantui.
Perubahan situasi sosial, ekonomi dan politik pasca krisis di dalam berbagai wacana di media massa berdampak pula pada penurunan potensi kemampuan intelektual bangsa termasuk di bidang gizi.
Hal ini terlihat dari cara-cara kita menghadapi masalah gizi buruk beberapa waktu lalu yang semrawut tanpa konsep perencanaan yang jelas.
Meskipun pendulum ilmu dan program gizi sudah bergeser 3-4 kali, konsep masalah kurang gizi masih terpaku pada pendulum tahun 1950-an yaitu kurang protein dan susu. Contoh lain dunia telah lebih dari sepuluh tahun mengikuti pendulum keseimbangan gizi dengan menerapkan pedoman gizi seimbang, tetapi masyarakat Indonesia termasuk kelompok intelektualnya masih menikmati pedoman empat sehat lima sempurna.
Harus diakui, kita serba ketinggalan, terutama dalam penelitian berbobot di jurnal gizi internasional. Bahkan di tingkat Asia pun kita sudah kedodoran jika dibanding dengan pusat-pusat ilmu gizi di Negara-negara seperti India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Kondisi sosial ekonomi rakyat yang belum membaik juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kronisnya masalah gizi di Indonesia. Keadaan ini diperparah oleh sikap dan perilaku sebagian elite pemimpin negeri yang tidak memihak kepada rakyat banyak.
Sumber : http://ayu044.multiply.com/journal/item/5/_Ironi_Gizi_Buruk_di_Era_Keemasan
2. 2 Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia
1. Pengolahan pangan didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengubah bahan pangan mentah menjadi
bahan lain yang berbeda dengan bahan asalnya dalam hal sifat fisik, kimia, maupun mutu organoleptik.
Pengolahan bertujuan untuk:
a. menghindarkan kerusakan atau pembusukan yang berlebihan;
b. menghasilkan produk yang tahan lama, terutama untuk pangan yang akan disimpan atau diangkut dalam
jarak jauh;
c. menghasilkan produk yang sesuai untuk pengerjaan lebih lanjut; dan
d. menghasilkan produk yang memenuhi kualitas dan persyaratan yang diminta pasar.
2. Pengolahan pangan diusahakan tidak merusak nilai gizi bahan yang dikandungnya.S elama pengolahan
dapat terjadi berbagai jenis kehilangan atau susut yang dapat dikelompokkan ke dalam:
a. kehilangan yang disengaja, misalnya dalam pengolahan serealia di mana biji-bijian digiling untuk
menghilangkan lapisan bran yang tidak diingini (misalnya penyosohan beras);
b. kehilangan yang tidak dapat dihindarkan, misalnya bagi makanan yang dimasak, dikalengkan, diblansir,
dikeringkan atau disterilisasikan;
c. kehilangan yang semestinya dapat dihindarkan, namun karena kurangnya pengawasan terjadi kehilangan.
3. Tujuan utama pengolahan pangan yang bersifat mengawetkan adalah untuk menghancurkan faktor-
faktor perusak mutu pangan yang akan menurunkan nilai gizinya.F aktor-faktor perusak mutu pangan yang
akan menurunkan nilai gizinya.F aktor-faktor perusak ini terutama adalah:
a. adanya aktivitas mikroorganisme, seperti bakteri, ragi, dan kapang;
b. adanya enzim;
c. kelembaban udara, sinar, dan oksigen;
d. adanya serangan oleh serangga, parasit atau tikus.
4. Pengolahan pangan tingkat rumah tangga bertujuan antara lain:
a. memudahkan bentuk pangan yang dikonsumsi serta menambah macam atau jenis makanan;
b. menjamin keamanan pangan;
c. meningkatkan kelezatan dan daya tarik dari pangan yang dikonsumsi.
5. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengawetkan atau memperpanjang masa simpan suatu pangan,
tergantung dari jenis pangan itu sendiri. Beberapa di antaranya, yaitu:
a. pengawetan dengan suhu tinggi;
b. pengawetan dengan suhu rendah;
c. pengeringan;
d. pengawetan dengan radiasi;
e. pengawetan dengan menggunakan bahan kimia.
6.F ermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik
yang sesuai. Terjadinya fermentasi ini dapat menyebabkan perubahan sifat pangan, sebagai akibat dari
pemecahan bahan yang terkandung dalam pangan tersebut.F ermentasi ditujukan untuk memperbanyak
jumlah mikroba yang diinginkan dan menggiatkan metabolismenya di dalam makanan. Proses fermentasi ini
akan meningkatkan mutu gizi produk pangan dibandingkan dengan bahan asalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar